Enny Agustina, Tanggapi Soal Tahanan Kabur

220
PALEMBANG, the8news.com — Menanggapi kaburnya 30 tahanan dari sel tahanan Polresta Palembang pada Minggu (5/5) pukul 02.50 WIB kemarin, menuai beberapa pertanyaan di masyarakat. Terdapat fakta, dimana sarana dan fasilitas sel tahanan selalu serba terbatas, maka para petugas pun harus mampu memanfaatkan melalui pengelolaan yang efisien, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Demikian yang disampaikan salah satu Advokat pengacara, Dr Enny Agustina SE SH MHum MKes CPL, ketika menanggapi kaburnya 30 tahanan dari rumah tahanan Polresta Palembang, senin(06/05).
“Keamanan dan tata tertib merupakan ajaran mutlak untuk terlaksananya program-program pembinaan, oleh karena itu suasana aman dan tertib di lingkungan sel tahanan, sangat diperlukan untuk diciptakan”, jelasnya.
Dilanjutkannya, Kegiatan keamanan dan ketertiban, berfungsi memantau dan menangkal bahkan mencegah sedini mungkin gangguan keamanan dan ketertiban yang timbul dari luar maupun dari dalam sel tahanan, memelihara, menguasai dan menjaga agar suasana kehidupan tahanan selalu tertib.”
Dikatakan Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum Amanda ini, berkaca dari fenomena dalam masyarakat, masih ada tahanan yang sudah keluar dari sel akan tetapi masuk lagi, karena mereka melakukan kesalahan kembali. Itu artinya bahwa kegiatan yang dilakukan di dalam sel tahanan belum berhasil.
“Ketidakberhasilan tersebut dikarenakan mereka belum mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen. Karena manajemen adalah sebuah unsur yang sangat penting di dalam sebuah kegiatan. Dengan manajemen maka akan mengetahui tugas masing-masing bidangnya, sehingga tujuan dari melakukan kegiatan bisa terpantau dan bisa terkontrol,” ujar wanita kelahiran Palembang, 10 Agustus ini yang memiliki seorang putri, Amanda Rizkia ini.
Dosen sekaligus Kaprodi Magister Ilmu Hukum Universitas Kader Bangsa ini juga menjabarkan, faktor penyebab terjadinya tahanan yang melarikan diri, merupakan ganguan keamanan dan ketertiban yang resikonya harus dihadapi oleh semua petugas. Oleh karena itu, jajaran petugas perlu mengetahui dan mengenali jenis-jenis ganguan keamanan dan ketertiban khususnya pelarian, serta pada gilirannya perlu mengetahui bagaimana cara-cara pendekatan untuk menghindari terjadinya pelarian, begitu juga yang terjadi di Polresta Palembang.
“Faktor tahanan melarikan diri tentunya karena adanya kesempatan dan niat dari tahanan itu sendiri untuk melarikan diri. Bisa disebabkan karena tahanan frustasi, tahanan merasa tertekan sehingga berusaha untuk segera bebas dan melarikan diri dengan caranya. Kemudian faktor kelalaian dan kurangnya keaktifan penjaga tahanan yang seharusnya mengecek tahanan setiap saat, sedangkan faktor yang paling kuat yang dapat mendorong tahanan dapat melarikan diri adalah kelalaian dari petugas itu sendiri. tahanan yang melarikan diri disebabkan karena ketidaknyamanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan selama menjadi tahanan. Akan tetapi, banyaknya petugas yang tidak mementingkan peraturan yang ada sehingga menyebabkan kelalaian tahanan dapat melarikan diri dari sel tahanan. Maka dari itu perlunya suatu pembinaan dan kerjasama antara tahanan dan para petugas baik kerjasama secara formal maupun nonformal yang dapat menciptakan ketertiban dan kenyamanan di sel tahanan,” tambah Ibu satu anak yang sudah memperoleh Sertifikasi Sistem Peradilan Anak dan Certified Procurement Lawyer (CPL) ini.
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Tridinanti, Fakultas Hukum Universitas Sjkhyakirti ini juga menjelaskan, terdapat beberapa faktor penyebab dari dalam (Intern) yang mencakup ganguan keamanan dan ketertiban di dalam sel tahanan, dimana bersumber beberapa aspek, diantaranya faktor provokasi, ekonomi dan kurang memiliki kemampuan penyesuaian diri tahanan, sedangkan faktor dari luar (eksternal) meliputi, lemahnya keamanan petugas jaga dalam sel tahanan yang kurang disiplin dalam mengontrol setiap sel tahanan, perkembangan teknologi di zaman globalisasi yang canggih banyak teknologi yang modern dan adanya kesempatan karena semua orang di setiap waktu pasti sifatnya berubah-ubah.
“Dalam rangka mencegah dan mengatasi serta mangantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di dalam sel tahanan setiap petugas dituntut mampu menyadap informasi dari penghuni lain yang digalang maupun yang tidak. Upaya-upaya yang dilakukan petugas jaga dalam penanggulangan pelarian tahanan adalah dengan cara Penal dan Non Penal atau Preventif dan represif.
Dengan demikian, untuk menghindari semua ini hendaknya  harus didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup, seperti penambahan sel tahanan dan petugas yang seimbang dengan jumlah tahanan dan juga pemasangan alat-alat keamanan yang canggih dan modern (CCTV dan sebagainya), lalu peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia), skill individu tentunya guna menunjang keberhasilan keamanan. Hendaknya pihak Polresta perlu meningkatkan kerja sama dengan pihak instansi lainya, misalnya ICJS (integrated Criminal justice system). Bentuk kerjasamanya dapat dengan meningkatkan pengamanan dan ketertiban di sel tahanan, tindakan penggeledahan harus lebih ditingkatkan dan juga perlunya perubahan infrastruktur gedung sel tahanan yang lebih besar,” tutup alumni Magister Hukum Universitas Gadjah Mada, Magister Kesehatan Universitas Kader Bangsa dan Program Doktoral Hukum Universitas Gadjah Mada.(fhy)
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY