Uncategorized

Pembunuh Mahasiswi Ternyata Residivis Kasus Yang Sama

Palembang,the8news.com — Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan pembunuh  mahasiswi semester III Universtas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang bernama Fatmi Rohanayanti binti Hirowati (20) harus di hukum kebiri sebelum dijatuhi vonis hukuman mati, Sabtu (2/2).

Sebelumnya, Fatmi ditemukan tewas mengenaskan di kebun karet Desa Kelekar, Gelumbang, Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumsel pada, Kamis (31/2) lalu.

Menurut Jenderal Bintang Dua ini, kasus pembunuhan Fatmi ini dikatahui murni perampokan, lantaran sebelumnya Fatmi terlebih dahulu mengantar orang tuanya untuk pergi menyadap karet di kebun.

“Kasus ini terbilang sadis, untuk itu kami meminta kepada Hakim pelaku diberikan hukuman kebiri sebelum dijatuhi hukuman nanti,” ungkap Kapolda Irjen Pol Zulkarnain.

Pelaku diketahui bernama Upuzan alias Sirun (34) warga Desa Suban Baru Kecamatan Kelekar Kabupaten Muaraenim yang merupakan residivis eks Nusa Kambangan, lantaran sebelumnya pelaku juga melakukan hal serupa, yakni merampok, memerkosa dan membunuh.

“Pelaku ini merupakan Eks Nusa Kambangan pernah mendekam 20 tahun lantaran kasus serupa dan baru 2 tahun lalu keluar, kemudian kembali melakukan hal sama,” jelas Kapolda.

“Pelaku ini kita jerat pasal berlapis dengan pasal 338, 340, 365 dengan ancaman hukuman mati,” ujar Kapolda menambahkan.

Diungkapnya kasus tersebut, jelas Kapolda, lantaran mendapat keterangan saksi yang membawa motor korban setelah merampok.

Pihak Kepolisan bergerak cepat, dimana sebelum dua kali 24 jam, tersangka bisa ditangkap dan kasusnya langsung dikembangkan.

“Kita memiliki 3 bukti akurat, Sepeda Motor milik korban, Dna tersangka yang ada pada badan korban serta dari keterangan tersangka tersebut,” ungkapnya.

Menurut Kapolda, banyaknya kejadian pembunuhan Sadis diwilayah Sumsel ini dinilai lantaran mental masyarakat yang sudah tidak stabil karena menganggap bisa menyelesaikan masalah dengan emosi.

“Fenomena ini kami menyikapinya karena mental masyarakat sudah banyak terganggu selain dari faktor ekonomi, sehingga mereka menyimpulkan dapat menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan,” tutupnya.(dian)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button