SECARA EMOSI, KARYA AI PERLU DIKEMBANGKAN PENULIS

*MESKI perkembangan teknologi _artificial intelligence_ (AI) semakin maju dan berkembang, namun untuk menghidupkan suasana cerita, masih harus ditangani (manusia) penulis*.

———-
Ungkapan itu dijelaskan dosen sistem informasi MDP Muhammad Rahmadi.

Rachmadi mengatakan, AI hanya memberikan alur kisahan ketika diminta untuk menulis draf cerita pendek.

“Jika kita cermati, ternyata alur cerpennya sudah bagus sesuai konteks bahasa Indonesia yang baik,” ujar Rachmadi menjelaskan..

Tapi, ketika dibaca dan dirunut secara mendalam, ternyata dari alur kisah nya tidak memiliki “ruh” yang menghidupi ceritanya.

Karena itu, kata Rachmadi, peran manusia memang masih berada di alur terdepan dalam membangun kisahan cerita pendek yang diharapkan.

Sebagai penulis, Rachmadi sudah melahirkan sejumlah cerpen dan novel dengan berbagai latar belakang cerita.

“Namun saya tetap kritis untuk meneliti dari awal hingga ke kisahan terakhir,” urai Rachmadi dalam peluncuran buku cerpen hasil karya AI yang disunting penulis dan jurnalis senior Maspril Aries, 3 Oktober 2026.

Buku bertajuk _*Perempuan di Tengah Labirin Mal*_ itu menghimpun cerita pendek kreativitas _artificial intellegicia_. Meski dapat dikatakan “sempurna” dalam mengungkap berbagai lapisan cerita, namun bagi mereka yang memahami dunia cerpen, nilai fakta yang diceritakan terasa hambar dan kurang berjiwa.

“Karena itu peran penulis harus dapat mengembangkan alur kisahan yang membangun kesan berjiwa dan menyentuh rasa bagi pembaca” ucap Rachmadi.

*Karya AI*
Dalam kaitan kreativitas kepenulisan cerita pendek, AI memang dapat merangsang gairah penulis muda.

Meski demikian, penulis pemula tidak dapat menerima format tulisan AI secara gamblang dan apa adanya.

Penyunting buku kumpulan cerita pendek _artificial intelligencia_(AI) *Perempuan di Tengah Labirin Mal* Maspril Aries, mengatakan bahwa kecerdasan buatan AI disebut juga sebagai produk akal imitasi.

“Buku ini tak sekadar kimpulan teks yang dihasilkan mesin, tapi sebuah dokumentasi sastra atas pertanyaan filosofis yang menggugat batas,” ujar Masrpil, tersenyum.

Namun yang jadi pertanyaan, apakah mesin dapat memahami dan menciptakan keindahan, kerinduan, serta kompleksitas manusia?

“Meski saya tak berani memastikan itu, tapi yang jelas produk tulisan AI ini masih memerlukan pokok pikiran manusia,” katanya.

Sebab, dalam alur cerita yang dipaparkan memang menyajikan alur seperti yang diharapkan. Namun dari sisi emosional humanity, memang harus diolah manusia sebagai penulis.

Nah, tantangan ini sudah sangat jelas ada di depan mata. Karena itu Maspril berharap para penulis pemula hendaknya mampu membaca arah yang jelas tentang perkembangan teknologi AI ini.

Awalnya, kata Maspril, proyek ini dimulai dari suatu _prompt_ sederhana tentang cahaya, kenangan, dan pulau eksotis.

Sementara cerpen lainnya, menjelaskan tentang kehidupan sosial yang ada di muka bumi ini, berikut suatu legenda.

“AI hanya membangun cerita demi cerita. Misalnya merangkai kata secara cepat, menciptakan karakter, dan menyisun plot dengan cara menggali jutaan data teks sastra yang pernah ada,” ucap Maspril.

Namun, sambungnya, kehadiran seorang penyunting, penyusun emosi cerita adalah manusia sebagai kurator.

“Karena itu penyair masalah yang ditampilkan dalam cerita adalah kunci yang mengubah _output_ teknis menjadi karya yang koheren dan menyentuh perasaan pembaca,” jelasnya.

Karena itu proses kolaborasi yang dilakukan tersebut, menjadikan buku ini sebagai artefak budaya era digital.

Artinya, kata Maspril, penciptaan isi tulisan tidak lagi menjadi monopoli manusia (penulis) tatapi merupakan simbiosis. Sekaligus membuktikan bahwa AI bukan sekadar alat atun _tols_, tapi sudah berada di tangan yang tepat. “Silakan membaca buku ini,’ ujar Maspril menutup perbincangan. (anto narasoma)

Penulis adalah sastrawan dan jurnalis senior