ANTO NARASOMA, [BUKAN] SAMPAH PERADABAN SASTRA

Oleh Bambang Oeban

SEBUAH karya tentang
sastra, harga manusia, dan ingatan kebudayaan

Sebagai penyair,
kata sebagian orang,
aku tak seberapa.
Aku tidak membantah.
Sebab dalam dunia kata,
membantah kadang-kadang
lebih melelahkan daripada
menulis seribu puisi.

Aku tahu
di negeri ini
ada nama-nama besar
yang puisinya telah
menjadi jembatan
melintasi bahasa,
melintasi pulau,
melintasi negeri,
bahkan melintasi batas
yang tak mampu dilewati
oleh sepatu paling mahal.
Di antara nama-nama itu,
ada nama yang bagiku
tak pantas sekadar
dipanggil ketika
panggung butuh
pengisi acara.
Namanya …
ANTO NARASOMA.

Aku tak sedang
menjual nama,
membuka warung pujian
di pinggir jalan sastra.
Aku cuma sedang bertanya:
Mengapa kita begitu pandai
menghitung harga sebuah
undangan, tetapi sering lupa
menghitung usia
pengabdian?

Mengapa kita begitu rajin
menghitung angka honor,
tetapi malas menghitung
berapa puluh tahun
seseorang menjaga api?
Mengapa sebuah nama
kadang dihormati
bukan karena perjalanan,
melainkan karena tarif?

Ah!
Matematika
memang hebat.
Dua tambah dua
tetap empat.
Tetapi dalam
dunia kebudayaan, kadang
dua puluh tahun pengabdian
bisa dianggap nol
kalau tidak dibungkus
dengan angka yang
cukup tinggi.

Begitulah!
Kadang kita hidup
di negeri yang sangat
mencintai angka.
Jumlah pengikut,
penonton.
undangan,
penghargaan,
tepuk tangan,
uang muka,
Jumlah kursi.
Jumlah kamera.
Dan akhirnya—
jumlah manusia
yang benar-benar
mengenal siapa kita
semakin sedikit.

Padahal
seorang penyair
tidak selalu membutuhkan
panggung yang tinggi.
Kadang ia hanya membutuhkan
sebuah telinga yang tidak
pura-pura tuli.
Kadang ia hanya
membutuhkan
sebuah kursi yang
tidak diberikan karena
belas kasihan.

Kadang ia
hanya membutuhkan
sebuah penghormatan
sederhana:
“Terima kasih,
Anda telah berjalan jauh.”
Karena perjalanan
tidak selalu dapat diukur
dengan kilometer.
Ada perjalanan
yang ditempuh melalui
penolakan,
kesepian,
Ada perjalanan
yang ditempuh dengan
membawa naskah
dari satu meja
ke meja lain.

Ada perjalanan
yang dimulai dari
sebuah tulisan kecil,
ketika seseorang belum
mempunyai nama besar
untuk dijadikan
kartu nama.

September 1975.
Seorang anak muda
menitipkan kata
kepada masa depan.
Sebuah cerita berjudul:
“Airmata Ibuku.”
Airmata.
Betapa sederhana kata itu.
Tetapi siapa yang tahu
berapa banyak airmata
yang harus dikeringkan
sebelum seseorang berani
percaya bahwa tulisannya
pantas dibaca orang lain?

Lalu datang puisi.
Tentang kemiskinan,
sepatu bolong,
kehidupan
yang mungkin bagi
sebagian orang terlalu
sederhana untuk masuk
ruang seminar.
Padahal—
sepatu bolong
kadang lebih jujur
daripada sepatu mahal
yang dipakai untuk
menginjak kepala
orang lain.

Kemiskinan
kadang lebih jujur
daripada kemewahan
yang dibangun dari kebiasaan
menghapus wajah-wajah kecil
dari daftar undangan.

Penyair belajar
bukan hanya dari buku.
Penyair belajar
dari jalan.
Dari suara ibu.
Dari koran yang dibaca
berulang-ulang.
Dari lampu panggung,
kursi penonton kosong,
naskah yang tidak dimuat,
tepuk tangan yang sebentar,
keheningan yang panjang.
Dan dari orang-orang
yang berkata:
“Belum saatnya.”

Padahal
“belum saatnya”
sering kali adalah
kalimat sopan untuk
mengatakan:
“Kami belum
mengenal Anda.”
Atau lebih jujur lagi:
“Kami belum tahu
berapa harga
nama Anda.”

Ah, dunia sastra!
Kadang begitu luhur
dalam seminar.
Kadang begitu kecil
ketika menentukan siapa
yang pantas duduk
di kursi paling depan.
Kita bicara humanisme.
Tetapi kerap kali lupa
memanusiakan manusia.
Kita bicara kebudayaan.
Tetapi tidak hafal
siapa yang telah menjaga
kebudayaan.
Kita bicara sejarah.
Tetapi hanya mengenal
sejarah yang sudah dicetak
dengan tinta emas.
Padahal banyak sejarah
ditulis dengan tinta keringat.
Dan kadang dengan air mata.

ANTO NARASOMA
bukan tiba-tiba muncul
dari langit dengan payung
penghargaan.
Ada perjalanan,
proses,
masa muda,
cerita,
puisi,
teater,
panggung,
televisi,
jurnalistik,
pertemuan,
perjalanan lintas negeri,
kerja panjang yang tidak
selesai hanya karena
satu acara selesai.

Tahun 1976.
Panggung memanggil.
Sanggar Seni Kenari Putih.
Lampu-lampu.
Naskah.
Dialog.
Tubuh manusia
yang berubah menjadi bahasa.
Sebab teater mengajarkan
bahwa kata tidak cukup
hanya ditulis.
Kadang kata
harus bernapas,
berjalan,
menangis.
berdiri di bawah cahaya
dan mempertanggung-
jawabkan dirinya.
Lalu televisi.
Lakon.
Sandiwara.
Peran.
Sebuah zaman
ketika layar belum penuh
oleh orang yang terkenal
karena terkenal.
Sebuah zaman
ketika untuk tampil
seseorang harus
membawa kemampuan.
Bukan sekadar membawa
angka dari layar handphone.
Kemudian perjalanan
terus berlanjut.
Teater Potlot.
Pementasan.
Perjumpaan.
Keringat.
Kesetiaan.
Seni memang
tidak selalu memberi
rumah mewah.
Kadang seni hanya memberi
rumah di dalam hati.
Tetapi orang yang sungguh
mencintai seni tetap tinggal
di sana.
Meski atapnya bocor.
kursinya patah,
kadang tamunya
datang hanya ketika
ada makanan.
Begitulah humor pahit
di rumah kebudayaan.

Ketika acara berlangsung,
semua datang membawa
senyum.
Ketika kerja bakti dimulai,
yang tersisa hanya panitia
dan dua orang seniman tua.
Satu membawa sapu.
Satu membawa puisi.
Lalu keduanya tertawa.
“Mana para pecinta budaya?”
Yang membawa sapu menjawab:
“Mungkin sedang membuat
status tentang pentingnya
melestarikan budaya.”
Mereka tertawa lagi.
Pahit.
Tetapi tertawa.
Sebab kalau semua
harus ditangisi,
air mata Indonesia
mungkin sudah
menjadi laut baru.

ANTO NARASOMA.
Nama itu
bukan sekadar huruf.
Di belakangnya
ada puluhan tahun
menjaga hubungan
dengan kata,
masyarakat,
dunia jurnalistik.

Sejak memasuki
jalan kewartawanan,
kata tidak lagi hanya
menjadi bunga.
Kata harus
menjadi mata,
telinga,
saksi.

Wartawan dan penyair
sebenarnya saudara jauh.
Yang satu mengejar fakta.
Yang satu mengejar
makna.
Tetapi keduanya
bisa sama-sama terluka
oleh kebohongan.
Keduanya bisa sama-sama
tidak disukai
ketika bertanya terlalu dalam
kehilangan teman,
menolak jadi penjilat.
Dan keduanya tahu—
kadang kebenaran
tidak datang memakai
jas resmi.
Kadang ia datang
dengan sandal jepit
dan wajah lelah.
Perjalanan pun membawa
persahabatan sastra
melintasi batas.
Malaysia.
Singapura.
Thailand.
China.
Negeri-negeri lain
menjadi ruang perjumpaan.
Bukan sekadar perjalanan wisata
untuk mengumpulkan foto.
Tetapi perjumpaan manusia
dengan manusia.
Penyair dengan penyair.
Penulis dengan pembaca.
Kebudayaan dengan kebudayaan.
Sebab bangsa yang besar
tidak takut berjumpa.
Bangsa yang percaya diri
tidak merasa lebih rendah
ketika mendengar bahasa orang lain.
Justru dari perjumpaan
kita belajar:
Bahwa manusia di mana pun
tetap menangis
ketika kehilangan.
Tetap tertawa
ketika bahagia.
Tetap takut
ketika sendirian.
Tetap membutuhkan kasih sayang.
Dan tetap membutuhkan kata-kata
ketika hidup terlalu sulit
untuk dijelaskan dengan
matematika.

Itulah sastra.
Ia membuat manusia
yang tidak saling mengenal
merasa pernah mengalami
hal yang sama.
Maka aku heran—
bagaimana mungkin
orang yang telah begitu lama
menjaga jalan justru diperlakukan
seolah hanya pelengkap penderita?
Apakah kita sedang kekurangan kursi?
Ataukah kita kekurangan ingatan?
Apakah kita sedang kekurangan panggung?
Ataukah panggung kita
sudah terlalu penuh
oleh orang-orang
yang datang membawa tarif
lebih dahulu daripada karya?
Aku tidak sedang memusuhi
siapa pun.
Tidak.
Penyair tidak harus
membuat musuh
agar puisinya dianggap tajam.
Kritik bukan palu untuk
memecahkan batok kepala.
Kritik adalah cermin.
Kalau wajah kita tampak kusut
di dalam cermin, jangan
pecahkan cerminnya.
Cuci wajah kita.
Kalau rumah kebudayaan
terlihat retak, jangan memukul
orang yang menunjuk retakan.
Mari kita perbaiki rumahnya.
Itulah yang ingin
aku katakan.

Kita tidak perlu
menurunkan nama siapa pun
untuk menghormati
ANTO NARASOMA.
Kita tidak perlu
meremehkan penyair lain
untuk mengangkat penyair
yang telah lama berjalan.
Langit tidak pernah
kekurangan tempat
untuk banyak bintang.
Yang menjadi masalah
bukan karena bintangnya
terlalu banyak.
Yang menjadi masalah—
kita hanya mau melihat bintang
yang paling sering masuk televisi.
Padahal di ujung langit,
ada cahaya tua
yang terus menyala.
Tidak gaduh,
meminta disorot,
memaksa disebut.
Tetapi tetap menyala.
Seperti penjaga mercusuar.
Ia tidak perlu ikut berlayar,
menjadi kapten,
menerima tepuk tangan
manakala kapal tiba.
Tetapi saat malam gelap
dan ombak mulai
menghapus arah,
cahayanya dicari.

ANTO NARASOMA
salah satu cahaya itu.
Mungkin ia tidak selalu berdiri
di tengah panggung paling gaduh.
Mungkin namanya tidak selalu
diteriakkan oleh pengeras suara.
Mungkin ia tidak selalu
diletakkan di halaman depan
brosur-brosur bergengsi.
Tetapi apakah itu berarti
perjalanannya berkurang
nilainya?
Tidak!
Seribu kali tidak!
Harga manusia
tidak ditentukan
oleh seberapa mahal
ia disebut.
Nilai seorang seniman
tidak habis
hanya karena sebuah panitia
tidak mampu membaca
panjangnya perjalanan.
Sebab penghargaan manusia
bukan hanya persoalan amplop,
persoalan hotel,
transportasi,
dapat kamar terbaik.
Penghargaan adalah
cara kita berkata:
“Kami tahu
Anda telah bekerja,
menjaga,
memberi jalan.”
Dan yang paling penting:
“Kami tidak ingin
melupakan Anda.”

Sebab lupa
adalah penyakit
kebudayaan paling mahal.
Bangsa yang lupa
kepada para penjaga kata
akan sibuk membangun
gedung, tetapi kehilangan
rumah yang dicari.

Bangsa yang lupa
kepada para guru
akan mempunyai sekolah
tetapi kehilangan
pendidikan.
Bangsa yang lupa
kepada seniman
akan mempunyai
panggung, tetapi
kehilangan jiwa.
Bangsa yang lupa
kepada sejarah
akan mudah dipimpin
oleh kebisingan.

Karena itu—
hai para penyelenggara!
Ppara pemilik acara!
Para pembuat festival!
Para pemburu sponsor!
Para pencinta sastra!
Sebelum mencetak baliho,
bukalah ingatan.
Sebelum menentukan
daftar nama, bukalah sejarah.
Sebelum menghitung tarif,
hitunglah perjalanan.
Sebelum menyusun
kursi kehormatan,
ingatlah:
Tidak semua orang
yang pantas dihormati
mampu membayar
dirinya sendiri dengan angka.
Ada manusia yang begitu
sibuk bekerja hingga lupa
belajar menjual nama.
Ada seniman yang terlalu
mencintai karya hingga
tidak pandai memasang
harga diri.
Dan ironisnya—
kadang yang tidak
pandai berjualan
justru paling mudah
diletakkan di
sudut.

Ah!
Dunia memang lucu.
Penyair yang menulis
tentang kemanusiaan
kadang diperlakukan
tidak manusiawi.
Orang yang berbicara
tentang keadilan
kadang duduk di kursi
yang paling tidak adil.
Orang yang dipanggil
untuk membaca puisi
tentang cinta kadang
tidak diberi sekadar
penghormatan.
Lalu kita pulang
membawa spanduk
bertuliskan:
“MEMAJUKAN KEBUDAYAAN.”
Kadang spanduk
lebih maju daripada
perilaku kita.
Kadang slogan lebih tinggi
daripada kesadaran kita.
Dan kadang—
kata “budaya”
dipakai sangat sering
oleh orang yang belum
sempat membudayakan
penghormatan.

Maka puisi pamflet ini
bukan puisi kemarahan.
Ini puisi pengingat.
Bukan untuk menjatuhkan.
Tetapi untuk membangunkan.
Bukan untuk menunjuk hidung.
Tetapi untuk mengajak
kita semua
bercermin bersama.
Sebab mungkin besok,
ketika usia bertambah tua,
kita pun akan berdiri
di ujung lorong.
Menunggu seseorang berkata:
“Masihkah aku diingat?”
Dan pada saat itu
kita baru memahami
betapa sunyinya
menjadi manusia
yang pernah berjasa
tetapi perlahan
dilupakan oleh zaman.
Jangan biarkan itu terjadi.
Jangan biarkan
para pembuka pintu
berdiri sendirian
di depan pintu
yang telah mereka buka
untuk kita.
Sebab pintu sastra
tidak pernah terbuka sendiri.
Ada tangan.
Ada pengorbanan.
Ada generasi.
Ada orang-orang
yang lebih dahulu datang
ketika ruangan masih gelap.
Mereka menyalakan lampu.
Mereka membersihkan lantai.
Mereka menyusun kursi.
Lalu kita datang
dengan pakaian rapi
dan berkata:
“Betapa indahnya ruangan ini.”
Tetapi kita lupa bertanya:
“Siapa yang menyalakan
lampunya?”

Di situlah
Puisi Pamflet ini
mengangkat suaranya.
Bukan dengan teriakan kebencian.
Tetapi dengan suara hati:
JANGAN LUPAKAN
PEMBUKA PINTU.
Karena tanpa mereka,
kita mungkin masih
berdiri di luar,
cuma punya
uang …

Aku percaya
Indonesia bukan negeri
yang miskin penghormatan.
Indonesia hanya kadang
terlalu sibuk.
Sibuk membangun.
berdebat,
memilih,
mengunggah,
mengomentari,
merasa paling benar.
Sampai lupa—
ada manusia
yang tidak sedang
meminta apa-apa.
Ia hanya ingin
karyanya tidak
diperlakukan seperti
barang bekas.

ANTO NARASOMA.
Mari kita sebut namanya
bukan menjadikannya patung.
Sebab manusia hidup
tidak membutuhkan patung.
Manusia membutuhkan
pengakuan yang hidup.
Pengakuan
bahwa perjalanan panjang
adalah perjalanan panjang.
Pengakuan bahwa kesetiaan
terhadap kata adalah
sebuah bentuk pengabdian.
Pengakuan bahwa berkarya
puluhan tahun bukan
perkara kecil.
Dan terutama: pengakuan
bahwa manusia
tidak boleh diukur
hanya dari angka.
Karena angka
tidak pernah bisa
menjelaskan berapa kali
seorang penulis menahan
putus asa.
Angka tidak tahu
berapa malam
seseorang menulis
ketika listrik hampir padam.
Angka tidak tahu
berapa naskah
yang dikembalikan.
Angka tidak tahu
berapa teman
yang pergi.
Angka tidak tahu
berapa kali
seorang seniman
harus memilih:
membeli buku atau
membeli kebutuhan lain.
Matematika sangat
berguna.

Jangan salah.
Aku tak sedang
berperang dengan
matematika.
Aku bahkan takut
kalau harus menghitung
berapa kali hatiku patah.
Karena kalkulator, mungkin
langsung meminta pensiun.
Tetapi matematika
tidak boleh menjadi
satu-satunya hakim
dalam menentukan
nilai manusia.
Sebab kalau
semuanya dihitung
dengan angka,
maka seorang ibu
harus mengirimkan
tagihan kepada anaknya
untuk setiap malam yang
ia habiskan tanpa tidur.

Seorang guru
harus membuat kuitansi
untuk setiap murid
yang berhasil.
Seorang seniman
harus memasang meteran
pada setiap ilham.
Dan seorang sahabat
harus menagih pembayaran
untuk setiap kali mendengar
keluhan.
Tidak!
Hidup akan
menjadi terlalu dingin.
Ada hal-hal yang tak boleh
kehilangan jiwa.
Kebudayaan salah satunya.
Sastra salah satunya.
Pendidikan salah satunya.
Kemanusiaan
paling utama.
Kita membutuhkan pendidikan
yang mengajarkan anak-anak
bukan hanya menjawab soal.
Tetapi bertanya:
“Siapa yang datang sebelum kita?”
Kita membutuhkan sekolah
yang tidak hanya mengejar
nilai seratus.
Tetapi juga mengajarkan
cara menghargai
orang yang telah berjuang.
Sebab anak yang mendapat
nilai seratus tetapi tidak tahu
berterima kasih ada gurunya—
belum tentu lebih terdidik
daripada anak yang mendapat
nilai enam puluh tetapi
memahami arti hormat.

Nilai ujian
bisa masuk rapor.
Tetapi nilai kemanusiaan
harus masuk ke dalam jiwa.
Maka aku ingin nama-nama
seperti ANTO NARASOMA
tidak hanya muncul
ketika acara sastra
membutuhkan tokoh.
Aku ingin perjalanan mereka
menjadi bahan belajar.
Bukan untuk disembah.
Tetapi untuk dipahami.
Bahwa konsistensi
lebih panjang daripada sensasi.
Bahwa perjalanan lebih berat
daripada popularitas.
Bahwa karya lebih penting
daripada kebisingan.
Dan bahwa seseorang
tidak harus menjadi viral
untuk menjadi berharga.
Wahai anak muda!
Jangan tertipu oleh zaman
yang serba cepat.

Kopi cepat.
Berita cepat.
Popularitas cepat.
Komentar cepat.
Marah cepat.
Lupa juga cepat.
Hari ini seseorang dipuji
sebagai matahari.
Besok sudah digantikan
oleh lampu reklame.
Jangan takut kalau
perjalananmu lambat.

Pohon besar
tidak tumbuh
karena dikejar-kejar.
Akar tidak pernah
memasang status:
“Sedang berproses.”
Tetapi diam-diam
ia masuk semakin dalam.
Begitu pula karya.
Biarkan karya
mempunyai waktu.
Biarkan puisi
mencari pembacanya.
Biarkan langkah
menjadi sejarah.
Dan ketika engkau melihat
seorang seniman tua,
jangan langsung bertanya:
“Masih terkenal?”
Tanyakan dalam hati:
“Berapa lama
ia telah menjaga jalan
sebelum aku datang?”
Karena hormat
sering kali dimulai
dari sebuah pertanyaan
sederhana.
Dalam kehidupan beragama
kita belajar: Manusia mempunyai
kedudukan bukan karena
gemerlap,
harta,
haus pengakuan,
Bukan karena kursi.
Yang membuat manusia
terlihat bersahaja, mulia
adalah ketakwaan,
kebaikan,
kejujuran,
dan amal.
Maka jangan sampai
kita rajin berbicara
tentang kemuliaan manusia
di tempat ibadah,
tetapi ketika keluar
kita menghitung manusia
seperti daftar harga.
Keagamaan yang sejati
harus melahirkan akhlak.
Akhlak harus melahirkan
penghormatan.
Dan penghormatan
harus hadir bukan hanya
kepada orang besar.
Tetapi kepada setiap
manusia.
Kepada penyair,
guru,
buruh,
petani,
penjaga malam,
tukang sapu.
Kepada mereka
yang tidak memiliki
mikrofon untuk
mengumumkan
jasa-jasanya.
Sebab Tuhan tak butuh
pengeras suara untuk
mengetahui siapa yang
telah berbuat baik.
Begitu pula negara.
Negara yang kuat
bukan hanya negara
yang memiliki gedung tinggi.
Negara yang kuat
adalah negara
yang ingat kepada akar.
Kita sering bicara:
NKRI!
PANCASILA!
BHINNEKA TUNGGAL IKA!

Aku pun
ikut berdiri tegak
ketika mendengar
kata-kata itu.
Tetapi Pancasila
bukan hanya untuk
dibacakan pada hari Senin.
Ia harus hadir ketika kita
memperlakukan manusia.
Kemanusiaan yang adil
dan beradab— itu bukan
hiasan dinding.
Itu pekerjaan rumah.
Setiap hari.
Di meja panitia,
ruang seminar,
kantor,
sekolah,
keluarga.
Di panggung kebudayaan.
Kalau seorang seniman
yang telah mengabdikan
hidupnya masih diperlakukan
sebagai pelengkap,
maka jangan buru-buru
menuduh dunia telah
kehilangan budaya.
Mungkin—
kita sendiri yang harus
belajar budaya dari awal.
Mari belajar
mengundang
dengan hormat.
Mengajak dengan hormat.
Mendengar dengan hormat.
Mengkritik dengan hormat.
Berbeda dengan hormat.
Karena bangsa ini
tidak membutuhkan
keseragaman pikiran.
Bangsa ini membutuhkan
kedewasaan.
Kita boleh berbeda selera.
Aku boleh menyukai
puisi yang kau anggap aneh.
Kau boleh menyukai
penyair yang tidak kusukai.
Tidak masalah.
Langit Indonesia cukup luas.
Yang tidak boleh
adalah menjadikan perbedaan
sebagai alasan
untuk menghapus jasa.
Tidak perlu mengatakan:
“Dia tidak sebesar si A.”
Untuk menghormati
seseorang.

Kalimat itu
sebenarnya
seperti berkata:
“Maaf, harga dirimu
bergantung pada
perbandingan.”
Padahal manusia
tidak diciptakan
untuk menjadi angka
pembanding.
Mawar tidak kalah
hanya karena matahari terbit.
Bulan tidak gagal
hanya karena bintang banyak.
Sungai tidak hina
karena laut lebih luas.
Dan seorang penyair
tidak kehilangan perjalanan
hanya karena ada penyair lain
yang lebih terkenal.
Maka hentikan kebiasaan
membangun panggung
dengan merendahkan
orang lain.
Mari membangun panggung
dengan memperluas ruang.
Kalau panggung terlalu sempit—
jangan menyuruh manusia
berdesakan demi gengsi.
Perbesar panggungnya.
Kalau anggaran terlalu kecil—
berbicaralah jujur.
Jangan memoles
kekurangan menjadi alasan
untuk merendahkan martabat.
Kalau kemampuan terbatas—
jangan membuat janji
seolah-olah kita
memiliki istana.
Kejujuran lebih terhormat
daripada kemewahan pura-pura.
Aku percaya masih banyak
orang baik di dunia seni.
Masih banyak panitia
yang bekerja tanpa tidur.
Masih banyak penyelenggara
yang mengeluarkan uang pribadi.
Masih banyak pegiat budaya
yang bahkan harus
menjual waktu, tenaga,
dan kenyamanan
demi sebuah acara.
Puisi ini tidak memusuhi mereka.
Justru kepada merekalah
aku menitipkan harapan.
Mari kita bangun
tradisi penghormatan.
Tidak perlu berlebihan.
Tidak perlu berpura-pura.
Tidak perlu membuat
semua orang menjadi
legenda.
Cukup—jangan
meremehkan perjalanan.
Jangan menutup pintu
kepada mereka
yang dahulu membukakan jalan.
Dan jangan menunggu
seseorang meninggal dunia
baru kita ramai-ramai berkata:
“Beliau adalah tokoh besar.”

Ah!
Ini kebiasaan kita
yang paling lucu
dan paling menyedihkan.
Ketika masih hidup—
“Ah, biasa saja.”
Ketika sudah meninggal—
“Tak ada penggantinya.”
Lalu kita membuat poster.
Membuat seminar.
Memberi penghargaan anumerta.
Mengunggah foto hitam putih.
Menulis:
“Selamat jalan, maestro.”
Padahal ketika maestro itu
masih hidup,
ia pernah menunggu
sebuah kursi kosong
di acara yang katanya
menjunjung tinggi
kebudayaan.

Maaf.
Aku tidak sedang menyindir.
Aku hanya sedang mengusap
dahi bangsa sendiri.
Kadang kita memang perlu tertawa
atas kebodohan kita.
Karena kalau tidak tertawa,
kita bisa putus asa.
Dan aku tidak mau
Puisi Pamflet ini
menjadi rumah putus asa.
Aku ingin ia menjadi jendela.
Jendela tempat kita melihat keluar.
Melihat bahwa masih ada jalan.
Masih ada kesempatan.
Ada generasi.
Ada anak muda
yang bisa diajari.
Masih ada panitia
yang bisa memperbaiki diri.
Masih ada seniman
yang bisa saling menguatkan.
Masih ada pembaca
yang bisa kembali
membaca.
Masih ada sekolah
yang bisa mengajarkan
sastra sebagai latihan
menjadi manusia.
Masih ada pemerintah
yang dapat membuka
ruang lebih luas.
Masih ada masyarakat
yang dapat berhenti sejenak
dari kebisingan untuk
mendengarkan sebuah puisi.
Dan selama itu masih ada—
kita belum kalah.

ANTO NARASOMA,
di ujung lorong zaman
namamu jangan dibiarkan
menjadi barang simpanan.
Jangan hanya dipanggil
ketika kita membutuhkan
sejarah untuk dekorasi.
Jangan hanya disebut
ketika acara membutuhkan
nama senior agar
tampak bergengsi.
Jangan hanya diingat
ketika kita membutuhkan
foto bersama.

Hormatilah manusia
ketika ia masih dapat
tersenyum.
Dengarkanlah penyair
ketika suaranya masih
dapat bergetar.
Datanglah kepada sahabat
ketika pintu rumahnya
masih dapat dibuka.
Karena setelah
semuanya terlambat,
karangan bunga
tidak dapat menjawab
kesepian.

Maka hari ini—
bukan besok.
Hari ini.
Mari belajar menghormati.
Bukan hanya Anto Narasoma.
Tetapi seluruh manusia
yang telah memberikan
hidupnya kepada jalan
kebaikan.
Kepada para guru.
Para penyair.
Para wartawan.
Para seniman.
Para budayawan.
Para pekerja.
Para orang tua.
Para penjaga.
Para petani.
Para nelayan.
Para penjaga sekolah
yang namanya tidak
pernah masuk buku sejarah.
Sebab peradaban tidak
dibangun oleh satu nama.
Peradaban dibangun
oleh jutaan tangan
yang sering tidak disebut.
Tetapi ketika kita menemukan
sebuah nama yang telah
berjalan panjang—
jangan pura-pura
bahwa kita tidak mengenalnya.
Itulah sebabnya aku menulis
PUISI PAMFLET ini.
Bukan untuk membuat
ANTO NARASOMA
lebih tinggi dari siapa pun.
Tetapi agar kita sadar:
Tidak seorang pun
perlu direndahkan
untuk membuat orang lain
tampak tinggi.
Tidak seorang pun
perlu dilupakan untuk
membuat panggung
tampak bergengsi.
Tidak seorang pun harus
menjadi pelengkap penderita
dalam rumah yang pernah
ia bantu bangun.
Dan kepada diriku sendiri—
aku pun berbicara.
Sebab penyair yang baik
harus terlebih dahulu
mengkritik dirinya.

Bambang Oeban!
Jangan hanya pandai
menulis tentang penghormatan.
Belajarlah menghormati.
Jangan hanya pandai
menulis tentang kemanusiaan.
Belajarlah memanusiakan manusia.
Jangan hanya pandai
menulis tentang persaudaraan.
Belajarlah menjadi saudara
ketika seseorang sedang sepi.
Jangan hanya pandai
menulis tentang bangsa.
Belajarlah mencintai manusia
yang membuat bangsa
menjadi hidup.
Dan kepada semua penyair—
mari kita berhenti
terlalu sibuk mengukur
siapa paling besar.
Mari menulis.
membaca,
berdiskusi,
berbeda,
tertawa,
saling mengingatkan,
menjaga.
Sebab musuh sastra
bukan penyair lain.
Musuh sastra
adalah kemalasan
membaca.
Kesombongan berpikir.
Kebiasaan meremehkan.
Keinginan jadi paling benar.
Dan ketidakmampuan
untuk menghormati
perjalanan orang lain.
Maka apabila suatu hari nanti
seorang anak bertanya:
“Siapa Anto Narasoma?”
Jangan hanya menjawab
dengan tanggal.
Jangan hanya menjawab
dengan daftar karya.
Jangan hanya menjawab
dengan riwayat perjalanan.
Katakanlah:
“Dia adalah salah satu manusia
yang memilih berjalan
bersama kata.”
“Kata-kata itu
membawanya ke banyak jalan.”
“Ke cerita.”
“Ke puisi.”
“Ke teater.”
“Ke jurnalistik.”
“Ke perjumpaan
dengan bangsa lain.”
“Dan sepanjang perjalanan itu,
ia mengajarkan kepada kita
bahwa kesetiaan
tidak selalu berisik.”
Lalu anak itu mungkin bertanya:
“Apakah ia terkenal?”
Jawablah:
“Pertanyaan yang lebih penting
bukan apakah seseorang terkenal.”
“Tetapi apakah ia pernah
memberikan sesuatu
kepada kehidupan.”
Sebab popularitas
adalah tamu.

Karya adalah
penghuni rumah.
Tepuk tangan
adalah suara.
Pengabdian
adalah gema.
Angka
adalah hitungan.
Kemanusiaan
adalah ukuran.
Dan sejarah—
kadang berjalan lambat.
Tetapi sejarah
mempunyai cara sendiri
untuk mengingat
mereka yang setia.

Maka,
ANTO NARASOMA—
jika suatu ketika
engkau merasa berdiri
di ujung lorong peradaban
sastra, jangan mengira
lorong itu adalah akhir.
Mungkin justru
di sana
generasi baru
sedang belajar
menemukan pintu.
Dan jika pintu itu terbuka,
mereka harus tahu—
pernah ada tangan
yang lebih dahulu
mendorongnya.
Pernah ada langkah
yang lebih dahulu
melewati jalan.
Pernah ada kata
yang lebih dahulu
menyalakan sunyi.
Pernah ada manusia
yang tidak menyerah
kepada waktu.

Namanya …
ANTO NARASOMA.
Dan namanya tidak harus
menjadi mahal untuk
menjadi berharga.
Tidak harus menjadi viral
untuk menjadi bermakna.
Tidak harus dibandingkan
untuk menjadi besar.
Tidak harus duduk
di kursi paling depan
untuk dihormati.
Sebab nilai sejati
tidak tinggal
di nomor kursi.
Nilai sejati
tinggal di perjalanan.
Di kesetiaan.
Di kerja.
Di ketulusan.
Di jejak yang ditinggalkan.
Maka mari,
sebelum zaman
terlalu jauh berjalan,
sebelum lorong
terlalu gelap,
sebelum para penjaga pintu
satu demi satu
menjadi nama
di batu nisan,
kita belajar berkata:
“Terima kasih.”

Terima kasih
kepada mereka
yang telah lebih
dahulu menulis.

Terima kasih
kepada mereka
yang telah lebih dahulu
membaca.

Terima kasih
kepada mereka
yang menjaga panggung
ketika penonton belum
datang.

Terima kasih
kepada mereka
yang menyalakan api
ketika kita masih
mencari korek.

Terima kasih
kepada para
pembuka pintu.

Dan kepada
ANTO NARASOMA …
Puisi Pamflet ini
tidak membawa mahkota.
gelar,
angka,
harga.
Ia hanya membawa
sebuah penghormatan.
Sederhana.
Tetapi semoga tulus.
Sebab pada akhirnya
kita semua akan pulang
dengan tangan kosong.
Tidak ada yang membawa
tarif.
Tidak ada yang membawa
jumlah pengikut.
Tidak ada yang membawa
kursi kehormatan.
Yang tinggal—
adalah jejak.
Yang tinggal—
adalah kebaikan.
Yang tinggal—
adalah karya.
Dan yang tinggal
di dalam ingatan manusia—
adalah pertanyaan:
“Apakah ketika aku hidup,
aku pernah menghormati
perjalanan orang lain?”
Jika jawabannya belum,
maka hari ini
masih ada kesempatan.
Mari memperbaiki.
Mari mengingat.
Mari menghormati.
Mari berhenti
menjadikan manusia
sebagai angka.
Karena bangsa yang besar
bukan bangsa
yang hanya pandai
membesarkan nama.
Bangsa yang besar
adalah bangsa
yang tahu cara
menghormati
manusia-manusia
yang telah lebih dahulu
menjaga api.
Dan selama api itu menyala—
lorong tidak akan gelap.
Pintu tidak akan tertutup.
Kata tidak akan mati.
Sastra tidak akan
kehilangan rumah.

ANTO NARASOMA—
jangan biarkan
penjaga pintu itu
sendirian.
Sebab suatu hari nanti,
ketika kita semua
sampai di ujung lorong,
kita akan memahami:
Bahwa peradaban
bukan dibangun
oleh mereka
yang paling keras
menyebut namanya.
Tetapi oleh mereka
yang setia
menyalakan cahaya
ketika orang lain
belum datang.
Dan cahaya itu—
selama masih ada
yang menjaganya—
tak akan pernah
SIA-SIA,
tak mungkin …
teronggok
di peradaban
Sampah Sastra!

Bekasi Timur,
Rabu, 03 September 2026