Oleh : Enasty Pratiwi Wulandari S.T., M.T
Memasuki musim kemarau 2026, ketahanan air kembali menjadi perhatian di Indonesia. Meski curah hujan pada musim penghujan relatif tinggi, banyak wilayah masih menghadapi ancaman kekurangan air bersih saat kemarau. Pengalaman menghadapi fenomena El Niño menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memperpanjang musim kering, menurunkan ketersediaan air baku, dan meningkatkan risiko krisis air. Karena itu, pengelolaan sumber daya air harus bergeser dari pendekatan konvensional menuju pembangunan kota yang berorientasi pada ketahanan air (water resilience).
Bagi Kota Palembang, kondisi tersebut menghadirkan sebuah ironi. Hampir setiap musim hujan, genangan dan banjir menjadi persoalan yang berulang. Namun ketika kemarau datang, tantangan bergeser menjadi menjaga ketersediaan air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dua persoalan yang tampakberbeda itu sesungguhnyamemiliki akar permasalahan yang sama, yaitu belumoptimalnya pengelolaan air hujan.
Selama ini air hujan lebih banyak dipandang sebagai penyebab banjir yang harus segera dialirkan ke sungai. Padahal, setiap tetes air yang mengalir ke Sungai Musi tanpa dimanfaatkan merupakan potensi sumber daya yang hilang. Di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perkembangan kawasan perkotaan, paradigma tersebut sudah saatnya diubah. Air hujan bukan hanya harus dikendalikan, tetapi juga perlu disimpan dan dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari strategi ketahanan air.
Data BMKG menunjukkan bahwa curah hujan Kota Palembang tergolong tinggi, tetapi sebagian besar masih menjadi limpasan permukaan (runoff) menuju Sungai Musi. Padahal, air hujan tersebut berpotensi menjadi cadangan air perkotaan (urban water storage). Sementara itu, ketergantungan pada Sungai Musi sebagai sumber air baku membuat pasokan air bersih semakin rentan akibat penurunan kualitas air dan musim kemarau yang berkepanjangan.
Dalam konteks tersebut, kolam retensi sesungguhnya memiliki fungsi yang jauh lebih strategis dibandingkan sekadar infrastruktur pengendali banjir. Kolam retensi dapat menjadi bagian dari sistem ketahanan air kota melalui konsep rainwater harvesting atau pemanenan air hujan, yaitu upaya menangkap, menyimpan, dan memanfaatkan air hujan sebagai sumber air alternatif.
Konsep ini bukan lagi sekadar wacana. Singapura telah mengintegrasikan waduk, drainase, dan ruang terbuka hijau melalui ABC Waters Programme, sementara UNNES, UI, dan ITB mengembangkan konservasi air berbasis danau dan kolam retensi kampus. Praktik tersebut menunjukkan bahwa dengan tata kelola yang baik, air hujan dapat diubah dari ancaman menjadi sumber daya yang bernilai.
Palembang telah memiliki sejumlah kolam retensi sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa fungsinya masih perlu dioptimalkan agar mampu menjawab tantangan perkembangan kota. Karena itu, selain membangun infrastruktur baru, pemerintah daerah perlu mengembangkan kolam retensi yang ada agar juga berfungsi sebagai reservoir air baku pada musim kemarau.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa air hujan berpotensi menjadi sumber air bersih alternatif. Pemanfaatannya semakin didukung oleh teknologi seperti sensor berbasis Internet of Things (IoT), Programmable Logic Controller (PLC), dan sistem pemantauan digital yang memungkinkan kolam retensi dipantau secara real-time. Teknologi tersebut mendukung pengelolaan air yang lebih efektif, mulai dari pemantauan kualitas hingga pengaturan distribusi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat.
Transformasi fungsi kolam retensi tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan investasi infrastruktur, regulasi yang jelas, koordinasi antar instansi, pembiayaan berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan agar kualitas air tetap terjaga.
Palembang perlu mengubah paradigma bahwa kolam retensi bukan sekadar pengendali banjir, melainkan investasi strategis bagi ketahanan air kota. Melalui sinergi pemerintah, akademisi, dan masyarakat, air hujan dapat diubah dari sumber masalah menjadi sumber kehidupan. Menabung air hari ini berarti menjaga ketahanan air Kota Palembang di tengah ketidakpastian iklim.(**)
Penulis; Dosen Teknik Mesin Universitas Tamansiswa Palembang

