Medan,the8news.com — Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, hari ini mengunjungi kantor PERMAMPU-PESADA dan Women’s Crisis Centre (WCC) Sinceritas, untuk melihat langsung kerja organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat perlindungan perempuan, pencegahan kekerasan berbasis gender, serta layanan inklusif bagi perempuan dan kelompok rentan.
Kunjungan ini merupakan bagian dari dukungan Australia melalui Program INKLUSI, yakni program kerja sama Pemerintah Australia dan Indonesia untuk memperkuat kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.
Dalam kunjungan tersebut, Duta Besar Australia meninjau fasilitas layanan kasus di WCC Sinceritas dan berdiskusi dengan perwakilan PERMAMPU-PESADA, kader One Stop Service and Learning (OSS&L), perwakilan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Kepolisian, serta tim respons bencana PERMAMPU.
“Program seperti PERMAMPU menunjukkan bahwa kerja sama lintas sektor dapat mendorong perubahan nyata, terutama dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan perempuan dan anak. Kemitraan Indonesia dan Australia dalam program INKLUSI adalah salah satu wujud nyata dari komitmen bersama untuk pembangunan yang lebih adil dan inklusif,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier.
Merupakan divisi dari PESADA, WCC Sinceritas berfokus pada pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, termasuk pendampingan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan bentuk kekerasan lainnya terhadap perempuan dan anak. WCC Sinceritas juga melakukan advokasi untuk memperkuat perlindungan hukum, termasuk implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).
Di Sumatera Utara, PERMAMPU bekerja melalui PESADA di enam kabupaten/kota: Kota Medan, Kabupaten Langkat, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Selatan. Salah satu pendekatan unggulannya adalah layanan OSS&L berbasis Puskesmas yang menyediakan informasi, konseling, dan rujukan bagi korban kekerasan. Hingga 2026, PERMAMPU telah menginisiasi 31 OSS&L di delapan provinsi, termasuk enam di Sumatera Utara.
Koordinator PERMAMPU, Dina Lumbantobing, menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam perlindungan perempuan.
“Bagi kami, perlindungan perempuan tidak bisa berhenti pada layanan kasus. Yang juga penting adalah membangun kepemimpinan perempuan, memperkuat jejaring komunitas, serta mendorong perubahan kebijakan dan norma sosial agar kekerasan dapat dicegah sejak awal,” ujar Dina.
Selain penanganan kekerasan berbasis gender dan perkawinan anak, PERMAMPU-PESADA juga terlibat dalam respons bencana hidrometeorologi di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Langkat. Respons tersebut mencakup asesmen kebutuhan berbasis perspektif GEDSI, distribusi makanan dan dignity kits (paket perlengkapan kebersihan dan sanitasi dasar), konseling, ruang ramah anak, serta pemeriksaan kesehatan—dengan memastikan kebutuhan perempuan dan kelompok rentan tidak terabaikan dalam masa tanggap darurat
maupun pemulihan.
Kunjungan Duta Besar Australia ini menegaskan komitmen Australia untuk terus mendukung Indonesia dalam memperkuat masyarakat sipil, memperluas akses layanan bagi kelompok marginal, dan memastikan pembangunan yang lebih inklusif bagi semua.(*)

