Ikhtiar Langit di Tengah Bara Lahat

Lahat – Kemarau panjang yang memanggang sebagian besar wilayah Nusantara tahun ini meninggalkan jejak karcis bencana yang familier: tanah retak, sumur mengering, dan kepulan asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membubung di berbagai penjuru daerah. Di tengah ancaman ekologis yang kian mencekam, ikhtiar tak lagi cukup hanya bertumpu pada selang pemadam dan operasi awan buatan.

Di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, ikhtiar itu dibawa bersujud ke hadapan Sang Pencipta. Pemerintah Kabupaten Lahat menggelar shalat Istisqa—shalat sunnah meminta hujan—secara berjamaah di halaman Kantor Bupati Lahat, Rabu pagi (9/9/2026).

Di bawah terik matahari yang menyengat, ratusan jemaah yang terdiri atas pegawai negeri sipil, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, hingga warga setempat berbaris khusyuk. Bertindak sebagai imam adalah ulama Lahat, H. Sidiq Al Hafidz. Kehadiran Bupati Lahat Bursah Zarnubi dan Wakil Bupati Widia Ningsih di barisan depan menyiratkan betapa gentingnya situasi krisis air dan bayang-bayang karhutla yang mendera daerah berbukit barisan tersebut.

Ada yang ganjal sekaligus syahdu dalam barisan shaf pagi itu. Kehadiran Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah AK Al Sattari, yang turut berbaur di tengah jemaah Lahat memberikan dimensi solidaritas lintas batas. Di tengah deraan kemarau yang membakar lahan-lahan pertanian warga, kehadiran sang dubes merajut ukhuwah internasional; menyatukan doa untuk keselamatan bumi Lahat sekaligus menyisipkan asa bagi kemerdekaan tanah Palestina.

Usai shalat dua rakaat, khutbah yang menggelegar dari khatib mengingatkan jamaah pada instrospeksi diri. Kemarau berkepanjangan dan musibah karhutla dipandang bukan sekadar siklus meteorologis semata, melainkan alarm keras atas relasi manusia dengan alam yang mulai retak.

Bupati Bursah Zarnubi menyebut pemerintah daerah tidak tinggal diam mengandalkan doa semata. Langkah teknis seperti mitigasi titik api karhutla dan distribusi air bersih terus digenjot. Namun, ia tak menampik bahwa pendekatan spiritual menjadi penopang batin yang krusial tatkala alam seolah menutup kerannya.

Lewat sapuan doa ratusan warga dan ulama di halaman kantor bupati itu, Lahat kini menadah tangan. Berharap “pintu langit” segera terbuka, menurunkan hujan merata yang mampu memadamkan bara karhutla, menyiram ladang-ladang yang meranggas, dan mengembalikan denyut kehidupan warga seperti sediakala.**