Muhammad Yasin, STP Tampung Aspirasi Petani Koto Dalam Barat: Benahi Irigasi, Hidupkan Lahan, Sejahterakan Masyarakat
Padang Pariaman – Di hamparan sawah Nagari Koto Dalam Barat, Kecamatan Padang Sago, kehidupan masyarakat sangat lekat dengan pertanian—namun di balik harapan panen yang melimpah, tersembunyi tantangan nyata yang mengganjal kesejahteraan warga. Hal‑hal mendasar seperti aliran air yang tak lancar, akses jalan yang kurang layak, serta lahan yang belum tergarap maksimal kini menjadi keluhan utama para petani yang menggantungkan hidup dari tanah leluhur mereka. Suara‑suara inilah yang kemudian disampaikan secara langsung dalam kegiatan Reses Jemput Aspirasi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhammad Yasin, STP, di Laga‑Laga Sungai Pua pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Kehadiran Muhammad Yasin, STP bukan sekadar pertemuan rutin wakil rakyat dengan konstituen; momen ini menjadi wadah tulus di mana warga menyampaikan apa yang benar‑benar dirasakan sehari‑hari tanpa perantara. Masyarakat tak datang membawa tuntutan berlebihan atau kemewahan—kebutuhan mereka sungguh sederhana namun sangat vital: irigasi yang diperbaiki dan berfungsi baik, jalan usaha tani yang layak dilalui, lahan tidur yang dihidupkan kembali, serta ketersediaan sarana dan alat pertanian guna meringankan beban kerja sekaligus meningkatkan hasil panen.
Tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman selama dua periode (2014–2024), Alfa Edison, menyambut hangat kehadiran wakil rakyat tersebut dan menyampaikan rasa syukur mendalam. “Kami mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadiran Bapak Muhammad Yasin, STP melaksanakan reses ini. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penghormatan bagi kami, karena masyarakat akhirnya bisa menyampaikan langsung aspirasi serta kebutuhan yang mereka rasakan setiap hari,” ucapnya—namun di balik ucapan terima kasih itu terselip harapan besar agar kehadiran ini tak berakhir sekadar kunjungan sesaat.
Ia pun menegaskan pesan yang patut menjadi perhatian: suara rakyat tak boleh hanya terdengar saat kegiatan reses berlangsung, lalu terlupakan begitu saja setelah acara usai. Di samping itu, Muhammad Nasir—sosok yang dipercaya masyarakat dan menjadi bagian tim pemenangan Muhammad Yasin di nagari ini—menyampaikan bahwa kepercayaan yang diberikan bukan sekadar dukungan saat pemilihan, melainkan amanah untuk terus menjembatani warga dengan wakil rakyat. Ia berjanji akan terus mengawal agar segala harapan warga terkait irigasi, lahan, infrastruktur pertanian, serta peralatan bertani benar‑benar didengar dan ditindaklanjuti.
Salah satu aspirasi yang paling kuat dan mendesak disampaikan warga adalah soal pembenahan jaringan irigasi. Bagi orang awam, irigasi mungkin hanya terlihat saluran air biasa—namun bagi petani Koto Dalam Barat, irigasi adalah nadi kehidupan yang menentukan nasib tanaman dan penghasilan keluarga. Ketika air tak mengalir lancar ke hamparan sawah, lahan menjadi kering, pertumbuhan tanaman terhambat, dan hasil panen menurun drastis—yang berarti pendapatan berkurang sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Itulah sebabnya warga memohon agar saluran air ini segera diperbaiki: agar mereka bisa kembali bekerja dengan tenang dan memanen hasil yang layak dari tanah sendiri.
Selain irigasi, warga juga meminta perhatian terhadap lahan tidur yang luasnya cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Tanah yang selama ini terlantar diharapkan dapat diolah kembali menjadi sumber penghidupan tambahan—namun hal ini membutuhkan dukungan berupa alat pertanian modern yang bisa dipakai bersama, sehingga biaya produksi menjadi lebih ringan dan pengolahan tanah berjalan lebih cepat. Tak kalah penting, jalan usaha tani yang rusak juga menjadi keluhan utama: jalan yang buruk membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan dan tenaga ekstra saat membawa pupuk ke sawah maupun mengangkut hasil panen ke pasar, sementara harga jual justru sulit naik.
Dalam pembahasan tersebut juga dibahas soal pembagian kewenangan—daerah irigasi seluas 800 hektare atau lebih berada di lingkup tugas pemerintah provinsi, sedangkan yang di bawah ukuran itu menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten. Masyarakat tentu memahami aturan ini, namun mereka berharap pembatasan kewenangan tak menjadi alasan saling lempar tanggung jawab atau membuat mereka harus menunggu lama tanpa kepastian solusi. “Rakyat tidak seharusnya menjadi korban batas administrasi—jika berada di lingkup kabupaten, kabupaten harus bergerak; jika urusan provinsi, provinsi harus turun tangan,” tegas warga yang hadir—yang dibutuhkan adalah kerja sama, bukan penundaan.
Kini setelah suara petani Koto Dalam Barat telah tertampung dengan jelas, Muhammad Yasin, STP beserta jaringan pendukung di lapangan termasuk Muhammad Nasir siap mengawal setiap poin aspirasi ini hingga ke ruang pembuat kebijakan. Reses ini harus menjadi awal perjuangan nyata, bukan sekadar catatan di buku laporan—karena petani tak hidup dari janji manis, melainkan dari air yang mengalir, tanah yang diolah, jalan yang dilewati, serta hasil yang dipanen. Harapan warga sangat sederhana: biarlah pertemuan ini diakhiri dengan tindakan nyata—sebab ketika irigasi kembali mengalir deras, lahan tidur berubah hijau, dan hasil panen makin melimpah, di sanalah masyarakat akan merasakan bahwa suara mereka benar‑benar didengar dan diperjuangkan.
Anas pilihan

