Suku Baduy dan Pola Kehidupan Mereka

Oleh Erni Novianti

*DI ZAMAN yang sudah demikian majunya seperti saat ini, ternyata masih ada suku tradisional di Provinsi Banten yang sangat menarik perhatian saya*.
——–

Ada keinginan yang sangat besar untuk mengetahui tentang peradaban suku Baduy yang tak terpengaruh dengan kemajuan teknologi dari masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Saya mencoba mencari-cari informasi tentang suku Baduy dari berbagai sumber. Meski tidak sepenuh data seperti yang saya harapkan, namun Alhamdulillah –saya mulai memahaminya dari berbagai sisi perilaku kehidupan mereka.

Secara geografis, suku Baduy hidup di wilayah Pegunungan Kendeng. Mereka hidup dalam suasana yang sederhana dengan peradaban aslinya.

Mereka bermukim di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy sangat memegang prinsip yang sangat kuat memegang nilai-nilai tradisinya.

Mereka sangat kuat memegang teguh adat istiadat dan kearifan lokal prinsip kehidupan leluhur mereka. Bahkan tidak terpengaruh pada perkembangan arus modernisasi.

Dalam kesehariannya, suku Baduy menggunakan bahasa Sunda Banten. Dari intonasi dan kosakata yang diucap terdengar unik, terutama suku Baduy dalam.

Dalam percakapan mereka, terdapat unsur bahasa Sunda Kuno. Bagi mereka, ucapan bahasa tersebut merupakan bentuk indentitas yang sangat penting.

Meski demikian, mereka juga menguasai bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan dunia luar.

Suku Baduy dibagi menjadi dua kelompok, yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Suku Baduy Dalam sangat ketat untuk menolak penggunaan teknologi modern. Mereka benar-benar teguh memegang prinsif untuk membatasi diri berinteraksi dengan dunia luar.

Sementara kehidupan suku Baduy Luar, lebih fleksibel dalam berinteraksi dengan dunia luar, meskipun mereka tetap menjaga tradisi inti dari kebiasaan nenek moyang mereka.

Kehidupan mereka didasari atas konsep “pikukuh” sesuai aturan adat yang kuat, yang mengintegrasikan antara kehidupan sehari-hari dan alam sekitarnya.

*Ciri Kehidupan*

Dari ciri kehidupan mereka sehari hari dapat dilihat dari cara berpakaian. Baduy Luar selalu mengenakan pakaian dan ikat kepala hitam atau biru tua, sedangkan suku Baduy Dalam selalu berpakaian putih dengan ikat kepala putih.

Umumnya, mereka itu selalu berjalan tanpa alas kaki. Ini mencirikan sikap yang memperlihatkan rasa syukur kepada alam.

Mereka sangat menghormati dan menjaga kelestarian alam serta memelihara habitat hutan di sekitar kehidupan mereka.

Selain itu, suku Baduy mempunyai mata pencarian sebagai petani. Mereka menjaga tanaman padi mereka agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan, suku Baduy suka mencari nira untuk dibuat gula aren yang diolah secara tradisional.

Selain suku Baduy, di Banten juga terdapat komunitas lain, yakni, *Kasepuhan Cisungsang*. Komunitas ini juga tampak seragam dengan suku Baduy, selalu menjaga nilai-nilai tradisi yang turun-temurun.

*Intonasi Unik*

Jika kita perhatikan, suku Baduy memiliki kebiasaan berbicara santun dengan kosakata yang unik dan enak didengar.

Jika kita bedakan dengan kata dalam bahasa Sunda modern, daya ucap suku Baduy terasa unik dan enak didengar. Misalnya, _oweuh_ dalam bahasa Sunda modern _euweuh_ yang artinya tidak ada.

Ada satu kata yang mengisyaratkan warna biru, mereka mengatakannya dengan sebutan “paul”.

Dalam kehidupan sehari-hari, suku Baduy Luar selalu mengucapkan perbincangan dengan bahasa Indonesia ketika ada pengunjung yang datang ke kawasan hunian mereka.

Baduy Dalam atau sering disebut sebagai urang Kanekes, menjaga aturan bahasanya. Ini dimaksudkan sebagai ketentuan adat istiadat mereka.

Sementara orang Baduy Luar lebih cenderung berbahasa dengan irama yang mirip, namun lebih banyak berinteraksi dalam logat bahasa luar, termasuk bahasa Indonesia.

Secara ringkas, orang suku Baduy selalu menggunakan bahasa Sunda Banten yang merupakan ciri khas, sebagai penanda budaya dan indentitas mereka. (*)

Penulis adalah wartawan the8news.com Palembang