GMNI :Jangan Saling Menyalahkan, Saatnya Mencari Solusi atas Persoalan PETI dan Kekerasan terhadap Wartawan

Jangan Saling Menyalahkan, Saatnya Mencari Solusi atas Persoalan PETI dan Kekerasan terhadap Wartawan

Padang, 8 Juni 2026

Padang–Kasus pengeroyokan yang menimpa seorang wartawan tak lama setelah memberitakan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Tindakan kekerasan tersebut sangat disayangkan dan sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam situasi maupun alasan apa pun. Peristiwa ini tidak hanya merugikan secara fisik dan mental terhadap individu wartawan, tetapi juga telah mencederai ruang demokrasi yang seharusnya menjamin kebebasan menyampaikan informasi.

Kebebasan pers merupakan pilar utama dalam kehidupan bernegara yang demokratis, dan setiap wartawan memiliki hak sekaligus kewajiban profesional untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi yang benar kepada publik. Melalui pemberitaan, masyarakat berhak mengetahui berbagai hal yang terjadi di lingkungannya, termasuk persoalan yang memiliki dampak luas bagi kehidupan bersama. Menghalangi atau melakukan kekerasan terhadap wartawan sama artinya dengan menutup akses masyarakat terhadap informasi yang mereka butuhkan.

Pandangan ini disampaikan oleh Julianda Emen Sugito, Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), saat memberikan pandangannya dalam kegiatan konsolidasi organisasi baru-baru ini. Menurutnya, memberitakan aktivitas PETI bukanlah sebuah kesalahan atau tindakan yang patut dipersalahkan. Sebaliknya, langkah jurnalistik tersebut adalah wujud nyata dari fungsi kontrol sosial agar berbagai masalah yang ada di tengah masyarakat bisa diketahui, dibahas, dan menjadi perhatian semua pihak untuk diselesaikan.

Lebih jauh lagi, aktivitas pertambangan tanpa izin ini telah lama menimbulkan berbagai dampak negatif yang nyata dan terasa oleh masyarakat. Mulai dari kerusakan struktur tanah dan hutan, pencemaran parah pada aliran sungai yang menjadi sumber air bersih, hingga meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Jika dibiarkan, praktik ini juga akan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup generasi mendatang karena kerusakan lingkungan yang sulit diperbaiki.

Namun demikian, kita tidak boleh melihat persoalan ini hanya dari satu sisi saja. Kita harus berani meninjau masalah ini secara utuh dan objektif. Di balik aktivitas PETI, terdapat kenyataan bahwa tidak sedikit warga masyarakat yang menggantungkan seluruh penghidupan dan nafkah keluarganya pada kegiatan pertambangan tersebut. Hal ini terjadi karena tekanan kondisi ekonomi yang semakin sulit, serta terbatasnya lapangan pekerjaan dan alternatif mata pencaharian yang tersedia di wilayah mereka. Faktor kesulitan ekonomi inilah yang sering kali menjadi pemicu utama munculnya ketegangan dan konflik di lapangan.

Oleh karena itu, di tengah situasi yang rumit ini, sikap yang paling tidak tepat dan tidak berguna adalah saling menyalahkan satu sama lain. Jangan menyalahkan wartawan yang hanya menjalankan tugasnya untuk kepentingan publik. Di sisi lain, jangan pula hanya menyalahkan masyarakat yang terlibat dalam pertambangan tanpa terlebih dahulu berusaha memahami kesulitan hidup dan keterbatasan pilihan yang mereka hadapi. Persoalan ini harus dipandang sebagai masalah bersama, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak.

Negara dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab besar untuk hadir memberikan solusi yang konkret dan berkelanjutan. Selain menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku aktivitas ilegal maupun terhadap siapa saja yang melakukan tindakan kekerasan, pemerintah juga wajib mempercepat penataan tata kelola pertambangan rakyat. Langkah strategis yang bisa diambil antara lain melalui penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), serta kebijakan lain yang memberikan kepastian hukum dan kepastian ekonomi, namun tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Mari kita hentikan segala bentuk kekerasan dan tinggalkan sikap saling tuduh yang tidak membawa hasil apa pun. Sudah saatnya kita mulai membangun ruang dialog yang terbuka, jujur, dan konstruktif antar elemen masyarakat. Persoalan PETI dan kekerasan terhadap wartawan tidak akan selesai dengan kemarahan atau ancaman, melainkan hanya bisa diatasi dengan keberanian duduk bersama mencari jalan keluar yang adil, berkelanjutan, dan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Team Solid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar