serba serbi

MARWAH KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PANJANG

Palembang – JIKA saya telisik puisi kematian yang ditulis penyair Muchammad Koiri B, alur kisah yang disampaikan secara estetik dengan imajinasi sangat dalam
—————-

Ia memiliki ide dan gagasan mendalam atas kesadaran religiustitas yang dalam. Sebab membicarakan mati, tidak semua orang bisa menafsirkan itu secara estetis.

Dari larik awal (alinea pertama), bisa kita merasakan bagaimana kesadaran diri penyair mengungkap perasaannya tentang ajal dan kematian..

_Tanpa diundang, tanpa tundaan_/ _Maut akan setia menghampiri kita_/ _Menggamit kita ke kereta beroda manusia_ / _Bersama tonggak-tonggak keabadian_..

Begitu perkasanya ajal ketika tiba ke dalam batas kehidupan manusia, diungkap penyair lewat kalimat .._Menggamit kita ke kereta beroda manusia_. Sangat kuat dalam menyajikan kereta beroda manusia. Sudah jelas, secara konotatif kita tak berdaya menghadapi kehadiran ajal.

Seperti dikemukakan penyair sufi Jalaludin Rumi, ajal adalah kekuatan abadi sebagai senjata untuk menggiring manusia kembali ke negeri asalnya..( *Marwah* Maret 1247).

Bagi penyair sendir, bisa jadi ketika ia berhadapan dengan kematian orang-orang yang lebih dahulu menghadap Ilahi, yang ada di dalam perasaannya ialah, kematian adalah harkat dari kehidupan abadi setelah nyawa direnggut ajal.

Dalam menafsirkan kematian, penyair mempunyai kesadaran penuh terkait persoalan mendasar dalam etika karya.

Sebab dari balik lapisan kalimat yang membawa _sense of feel_ tersebut, penyair menyadari bahwa setiap puisi harus mempunyai satu pokok bahasan yang harus ia kemukakan.

Karena itu ia dituntut untuk menyajikan kreativitasnya yang dapat menangkap apa yang hendak dikemukakan penyair.

Karena itu ketika Khoiri menjelaskan masalah ada apa setelah mati, ia kemukakan bahwa ada kehidupan abadi di yaumil mahsar nanti.

Karena itu dalam puisi bertajuk *Kematian* itu penyair menyajikan feel dan tujuan makna secara intensi.

Seperti dikemukakan LA Richard dalam buku *Perjalanan Sastra Indonesia* ( penerbit Gunung Jati Jakarta ..September 1982), meski tema yang diungkap kadang tersamar, namun penyair Khoiri secara tegas menandaskan bahwa kematian adalah kehidupan abadi melalui ajal.

Dalam alinea terakhir ia ungkap maksudnya secara metapora,..

_Kini, di ujung batas Hari kita dan mereka_/ _Harus bersiap dengan apa pun bekalnya_/ _Maju beriringan menuju keabadian_

Dari diksi *keabadian* dapat kita pahami bahwa kematian adalah kehidupan yang tiada berbatas (abadi).

Ini juga diungkap B Simorangkir-Simandjuntak bahwa kematian merupakan djalan pandjang jang akan dihadapi oleh manusia. Karena itu prinsip dasarnja adalah bekal apa jang bakal dibawa ketika batas adjal sudah mendjadi perangkap keabadian (..buku *Kesusteraan Indonesia* Jajasan Pembangunan Djakarta 1953).

Karena itu dalam sastra puisi, masalah kematian tak sebatas makna bahwa setelah nyawa direnggut ajal sudah itu ada cerita lanjutan. Padahal secara metapora, kematian itu adalah pintu yang membuka pikiran kita bahwa akan kita hadapi perjalanan panjang secara abadi. Maka di sinilah baik buruknya perbutan yang kita lakukan akan memperoleh balasan.

Lantas, bekal apa yang akan kita bawa ke negeri keabadian ?

Oleh Anto Narasoma 2 April 2023.

Related Articles

Back to top button