Mengelola Singkong Menjadi Tepung Mocaf Dongkrak Ekonomi

Oleh, Cindra Irawan

SINGKONG atau UBI KAYU, jika diolah akan memiliki nilai jual tinggi, sehingga bisa memberikan tambahan bagi petani maupun masyarakat. Hal itulah saat ini.yang ditekuni ibu ibu yang tergabung dalam kelompok Embun Pagi, di Desa Simpang Bayat Kecamatan Bayung Lincir kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Untuk menjadikan harga singkong bernilai lebih tinggi, kelompok wanita tani (KWT) Embun Pagi di simpang Bayat mengolahnya menjadi produk tepung mocaf. Usaha tersebut , mereka mendapatkan pendampingan dari PHE Jambi Merang untuk melakukan hilirisasi produk. Singkong tidak lagi dijual mentah, melainkan diolah secara terstruktur melalui proses fermentasi, pengeringan, hingga penggilingan menjadi tepung mocaf.

Melalui tangan dingin seorang perempuan bernama Arianti selaku ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi yang beranggota 12 orang, singkong tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Bahan lokal , singkong/ ubi kayu ini diolah menjadi sedikitnya enam produk turunan nya, di antaranya tepung mocaf, tepung bumbu mocaf, stik bawang mocaf, stik keju pangan mocaf, cookies kelapa mocaf dan Eyek-eyek.

Teknik pengolahan ini, karakteristik tepung yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas (mirip terigu) sehingga memberikan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih optimal dibandingkan menjual singkong dalam bentuk mentah.

Perubahan tersebut berjalan melalui proses pendampingan, penguatan kapasitas, penyediaan sarana produksi hingga pembangunan rumah produksi melalui Program Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Melalui Budidaya Singkong, bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PHE Jambi Merang.

Arianti, ketua kelompok embun pagi, saat di bincang beberapa wartawan mengatakan, Aktivitas usaha kelompok KWT meningkat sekitar 50 persen dibandingkan sebelum program berjalan. Intensitas pertemuan yang sebelumnya sekitar satu hingga dua kali dalam sebulan kini mencapai tiga hingga empat kali.

Anggota aktif KWT Embun Pagi sebanyak 12 orang. Keterampilan mengolah singkong meningkat dari 35 persen menjadi 75 persen, sementara produk olahan berkembang dari dua menjadi enam jenis.

Dari sisi pemasaran, pencatatan penjualan kelompok periode Juli 2025 hingga Februari 2026 menunjukkan produk Tepung Mocaf dan Eyek-Eyek menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp7.067.000, dengan rata-rata sekitar Rp933.000 per bulan.

Bermula dari Budidaya Sayuran

Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, menuturkan kelompok KWT berdiri pada akhir tahun 2021. Pada awalnya, kegiatan anggota lebih banyak fokus pada budidaya sayuran, dengan beranggota sebanyak 35 orang.

Perubahan mulai terjadi setelah anggota mendapatkan pelatihan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf. Dari pelatihan tersebut muncul ide untuk mengembangkan singkong menjadi berbagai produk bernilai tambah.

“Kelompok kami berdiri tahun 2021. Awalnya fokus pada sayuran. Kemudian kami mendapatkan pelatihan produk tepung mocaf dan mulai mengembangkan produk turunannya,” ungkap Rianti.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan KWT Embun Pagi mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Namun, mempertahankan anggota tetap aktif menjadi salah satu tantangan.

Kelompok Wanita Tani Embun Pagi saat ini terdapat 12 anggota yang aktif terlibat dalam kegiatan produksi.

“ Untuk sekarang ini anggota yang aktif ada 12 orang. Kalau produksi memang membutuhkan tenaga, sehingga kami memilih anggota yang benar-benar aktif,” katanya.kata Arianti ketua KWT Embun Pagi.

Rumah Produksi Singkong

Hadirnya rumah produksi menambah semangat kami dan salah satu perubahan bagi Kelompok Wanita Tani ini untuk lebih giat lagi.

Bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, Rumah produksi menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan, menjalankan proses pengolahan secara lebih layak dan higienis, sekaligus menjadi pusat kegiatan kelompok.

Program pemerdayaan PHE Jambi Merang juga mencakup peralatan produksi, alat pengering, pelatihan kewirausahaan, pendampingan pengemasan serta pengadaan legalitas produk.

Produk olahan mocaf yang dikembangkan kelompok telah memperoleh izin PIRT, sehingga memberikan dasar legalitas untuk mendukung pemasaran dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

Dirinya berharap, legalitas dapat terus dilengkapi agar pemasaran produk semakin luas.

“Kami ingin produksi semakin konsisten dan pemasaran semakin banyak. Harapan kami izin yang dibutuhkan bisa semakin lengkap sehingga kami bisa menjual produk lebih luas,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan, Tepung Mocaf adalah inovasi pangan yang potensial untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah dan Pengelolaan tepung mocaf lebih mengembang saat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk olahan kue serta Kandungan gizi tepung mocaf tidak begitu berbeda dengan terigu.

Tepung mocaf dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor. Bagi warga, ini berarti rantai produksi yang lebih dekat, biaya yang lebih terkendali, serta membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa.

PHE Jambi Merang Dorong Potensi Lokal

Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio, mengatakan program pemerdayaan ini berangkat dari potensi yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat Desa Simpang Bayat.

Menurutnya, masyarakat telah memiliki produk lokal berbasis singkong. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikembangkan agar tidak berhenti di tengah jalan.

“Kami melihat Desa Simpang Bayat sebenarnya sudah menghasilkan dan memiliki produk lokal. Kami dari PHE Jambi Merang lebih mendorong, memicu dan menumbuhkan semangat warga, terutama ibu-ibu KWT Embun Pagi, agar pengolahan singkong dapat berkembang menjadi berbagai produk turunan,” jelasnya.

Dukungan diberikan secara bertahap melalui penyediaan peralatan, pengembangan konsep, diskusi, pendampingan dan penguatan proses produksi.

Dikatakannya , keberhasilan program tidak hanya bergantung pada dukungan perusahaan. “Kami tentunya tidak bekerja sendiri. Dukungan dan penggerak dari masyarakat, dalam hal ini KWT Embun Pagi menjadi hal yang utama bagi kami,” imbuhnya.

Bukan Sekedar Pasilitas Rumah Produksi

Program pemberdayaan kelompok wanita tani (KWT) Embun Pagi disusun dalam roadmap 2025–2027.

Tahun 2025 diarahkan pada penguatan kelembagaan, sosialisasi, identifikasi potensi dan peningkatan kapasitas dasar budidaya singkong.

Memasuki tahun 2026, fokus program beralih pada penguatan produksi dan sarana pendukung melalui pembangunan rumah produksi, bantuan peralatan dan alat penghancur, pelatihan kewirausahaan serta pengurusan legalitas.

Selanjutnya untuk tahun 2027, program akan diarahkan menuju kemandirian dan kelangsungan hidup, termasuk penguatan kelembagaan, pengembangan kemitraan dan unit usaha kelompok.

Artinya, program tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi membangun kemampuan kelompok agar mampu mengelola usaha secara mandiri.

Rumah produksi, Guna mendukung keberlanjutan usaha dan memperluas jangkauan pasar dari tanah perkebunan hingga ke meja konsumen, PHE Jambi Merang juga meresmikan rumah produksi Singkong khusus untuk KWT Embun Pagi. Fasilitas ini membantu menjaga higienitas, kapasitas produksi, dan standar kualitas produk olahan mereka.

Ibu ibu Menjadi Penggerak

Di balik produk olahan singkong tersebut terdapat peran 12 orang perempuan desa yang terlibat langsung dalam aktivitas produksi.

Penguatan peran perempuan menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat sekaligus upaya membuka ruang ekonomi bagi perempuan di tingkat desa.

“Kesetaraan gender perlu dimunculkan. Ternyata ibu-ibu juga mampu mengambil peran dalam mengolah produk dan berminat pada usaha,” ujar Satrio.

Keterlibatan ibu ibu tersebut sekaligus membuka peluang agar generasi perempuan muda melihat potensi sumber daya lokal sebagai bagian dari peluang ekonomi.

Dari Singkong Menuju Ekonomi Sirkular

Inovasi KWT Embun Pagi bahkan mulai membuka pemanfaatan limbah. Kelompok mendorong prototipe model APAR tabung berbasis pengembangan limbah kulit singkong sebagai bagian dari upaya penerapan konsep ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Dengan demikian, singkong tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, tetapi bagian yang selama ini dianggap limbah juga mulai dipandang sebagai bahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Pasar Nasih Menjadi Tantangan

Meski menunjukkan perkembangan, KWT Embun Pagi masih menghadapi tantangan dalam perluasan pemasaran. Saat ini produk dipasarkan melalui jaringan yang telah terbentuk, termasuk lingkungan sekitar dan dukungan jejaring PHE Jambi Merang.

Nilai penjualan sekitar Rp7 juta lebih menjadi salah satu indikator awal bahwa produk olahan singkong memiliki peluang pasar. Namun, kelompok tersebut masih memerlukan penguatan produksi, legalitas, pengemasan dan jaringan pemasaran untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Rianti menyadari perjalanan kelompok masih panjang. “Kami berharap siapa pun yang bisa membantu, baik pemerintah, perusahaan maupun pihak lain, dapat membantu produksi dan pemasaran. Kami ingin produk kami semakin dikenal dan bisa dipasarkan lebih luas,” harapnya.

Singkong dan Harapan

KWT Embun Pagi mungkin belum menjadi industri besar. Namun, perubahan yang terjadi menunjukkan satu hal: hasil bumi desa tidak harus selalu meninggalkan petani dalam bentuk bahan mentah.

Di Dusun Selaro, singkong mulai memiliki nilai baru melalui tangan perempuan-perempuan desa yang kreatif.

Ada rumah produksi, enam jenis produk olahan, peningkatan keterampilan anggota, legalitas PIRT, aktivitas usaha yang semakin rutin dan nilai penjualan jutaan rupiah.

Perjalanan itu masih panjang. Tetapi dari sebongkah singkong yang tumbuh di tanah Desa Simpang Bayat, KWT Embun Pagi sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekedar produk pangan: pengalaman, kemandirian, peluang usaha dan harapan bagi ekonomi perempuan desa.

Melalui inovasi ini, kaum perempuan di KWT Embun Pagi tidak hanya berhasil menggerakkan ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal berbasis bahan baku singkong.

PHE Jambi Merang Dongkrak Ekonomi Warga

Mengelola Singkong menjadi tepung Mocaf ( Modified Cassava Flour ) dengan harga jual jauh lebih tinggi per kilogramnya dari harga jual mentah.

Program pemberdayaan yang diinisiasi oleh PHE Jambi Merang ini fokus pada standarisasi proses, mulai dari fermentasi hingga pengemasan.

“Program ini dirancang agar memberikan manfaat langsung terhadap kelompok dan berkelanjutan bagi ekonomi masyarakat, langkah ini adalah bentuk kemandirian pangan lokal,” ( * )

Palembang, 19 September 2026